Kamis, 27 November 2008

Peneguhan Yayasan St Bernardus Pekalongan


SMA St Bernardus Pekalongan adalah SMA milik paroki yang dikelola oleh paroki. SMA ini berdiri sejak th 1960 dan mengalami perkembangan baik tempat belajar maupun kepengurusan. Sekarang ini dengan bertempat di jl Patriot 14 Pekalongan, sekolah ini menjadi sekolah kategori Nasional. Kelangsungan karya pendidikan ini tidak hanya ada pada kepala sekolah guru-karyawan dan siswa tetapi juga kepengurusan yayasan. SEhubungan dengan berakhirnya kepengurusan yayasan maka paroki membentuk kepengurusan yang baru. Kepengurusan ini dipilih dan diangkat oleh pembina yang mewakili pendiri dan pemilik sekolah. Maka pada hari Rabu, 26 November 2008 kepengurusan yayasan diteguhkan bersama. Dihadapan pengurus Dewan Pastoral mereka yang dipilih diajak untuk menggunakan kesempatan tersebut sebagai bagian dari pelayanan dan pengabdian pada Gereja. Mereka dipilih oleh Gereja untuk mengemban tugas misi Gereja dalam bidang pendidikan.
Dalam kesempatan ini Romo paroki mengajak semua organ bertindak kompak karena mengemban misi dan saling mendukung sesuai dengan cakupan serta kapasitas masing-masing baik sebagai pembina, pengurus maupun pengawas.
Diungkap pula harapan tentang pengelolaan sekolah menjadi tanggungjawab bersama. Maka kondisi riil tetap membutuhkan dukungan dan harapan optimis untuk menjadikan karya pendidikan ini sebagai karya GEreja. Berbagai harapan ini terungkap dari para pengurus baru maupun dewan pastoral. MEnjadikan sekolah yang sehat dan tetap sesuai dengan visi misi pendidikan membutuhkan pengelolaan dana yang tidak sedikit. Target adanya dana abadi 5-7 milyard bila terealisasi akan membuat karya ini tetap bisa bertahan. SEkolah yang sehat dapat mengelola sendiri operasional dari siswa. Persoalannya bahwa 90% dana masuk sudah habis untuk gaji guru karyawan dan operasional. Padahal sekolah yang sehat 60%nya dana masuk untuk kepentingan gaji guru karyawan. Hal inilah yang membutuhkan gerak bersama agar karya pendidikan tersebut tidak berhenti dan tetap bertahan bahkan makin kuat.
Di akhir pertemuan tersebut para terpilih diajak untuk berdoa bersama, doa peneguhan. Dipimpin oleh romo paroki para organ yayasan menjawab kesediaan dan berjanji untuk melayani Tuhan dalam karya pendidikan sesuai dengan bidang masing-masing. Selamat berkarya dan mengabdi pada GEreja.
in finem omnia/agtoro

Rabu, 26 November 2008

Benarkah Kaum Awam dipanggil untuk Terlibat dalam Kehidupan Politik?

Mengapa Pemilu 2009 Penting dan Gereja Mengajak Umat Terlibat?
disampaikan oleh Rm F Widyantardi Pr
dalam rekoleksi kerawam di HEning Griya BAturaden Purwokerto, 22-23 Nov


Benarkah Kaum Awam dipanggil untuk terlibat dalam kehidupan Politik?
Gereja mengharapkan orang beriman Katolik tekun terlibat dalam bidang politik. Alasannya bukan pertama-tama berhubungan dengan dengan kekuasaan atau jabatan publik, meliankan kecintaan serta tanggung jawab terhadap tanah air dan bangsa.[1]
Konsili Vatikan II (GS art 75) dengan jelas menekankan pentingnya keterlibatan politik Umat Beriman Katolik dengan mengatakan sbb.
1. Hendaknya secara intensif diusahakan pembinaan kewarganegaraan dan politik, yang sekarang ini perlu sekali bagi masyarakat dan terutama bagi generasi muda, supaya semua warganegara mampu memainkan peranannya dalam hidup bernegara.
2. Mereka yang cakap atau berbakat hendaknya menyiapkan diri untuk mencapai keahlian politik, yang sukar dan sekaligus amat luhur, dan berusaha mengamalkannya, tanpa memperhitungkan kepentingan pribadi atau keuntungan materiil.
3. Hendaknya mereka dengan keutuhan kepribadiannya dan kebijaksanaan menentang ketidakadilan dan penindasan, kekuasaan sewenang-wenang dan sikap tidak ber-tenggang rasa satu orang atau satu politik.
4. Hendaknya mereka secara jujur dan wajar, malahan dengan cinta kasih dan ketegasan politik, membaktikan diri bagi kesejahteraan semua orang.
Pandangan dan Praktek Politik yang keliru menyebabkan Awam Katolik “alergi, apatis, skeptis, dan takut” terhadap kehidupan Politik.
Sikap apatis, skeptis atau alergi terhadap kehidupan politik yang ada dalam diri Umat Beriman Katolik memang tidak baik. Kenyataan ini ada akibat munculnya pandangan politik dan praktek politik yang keliru (menyimpang dari hakekat kehidupan politik). Memang ada praktek politik yang telah menyebabkan citra dasar yang baik tentang politik menjadi buruk, kotor atau jahat. Tetapi justru dalam kondisi yang runyam itulah Umat Beriman Katolik (khususnya yang mahir di bidang politik) dipanggil untuk bersama warga masyarakat lain yang memiliki kehendak baik melakukan perbaikan.[2] Dalam hal ini Gereja konsisten ingin mewujudkan apa yang sudah ada sejak 2000 tahun lalu, sejak Gereja Perdana jaman Para Rasul, untuk terlibat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Praktek berpolitik yang menyimpang digambarkan dengan gamblang dalam Nota Pastoral KWI 2003 : “… Yang berlangsung sekarang, politik hanya dipahami sebagai sarana untuk mencapai dan mempertahankan kekuasaan, atau menjadi ajang pertarungan kekuatan dan perjuangan untuk memenangkan kepentingan kelompok. Kepentingan ekonomi atau keuntungan finansial pribadi dan kelompok menjadi tujuan utama …. Simbol-simbol agama pun dijadikan alat untuk mencapai kepentingan politik itu …”.
Kenyataan seperti dirumuskan dalam Nota Pastoral KWI 2003 inilah yang menjadi alasan bagi sementara Umat Beriman Katolik untuk tidak mau terjun (bahkan membicarakannya pun tidak mau) dalam bidang politik. Untuk itu perlu dilakukan pelurusan persepsi atau cara pandang terhadap politik itu.
Politik mempunyai akar kata Polis (Bhs Yunani) artinya negara (negara kota). Plato (347 sblm M) menulis buku ttg negara idela Politeia dan Aristoteles (322 sblm M) menulis buku ttg ketatanegaraan Politikon. Dalam kedua buku tersebut terungkap bahwa Politik itu adalah Seni Mengatur dan Mengurus Negara atau Ilmu Kenegaraan. Politik mencakup semua kebijakan atau tindakan dalam urusan kenegaraan / pemerintahan, termasuk penetapan bentuk, tugas dan lingkup urusan negara terhadap rakyatnya.
Apabila Politik dijalankan sesuai dengan semangat dasarnya, maka tidak ada lagi alasan untuk menyebut politik itu kotor atau jahat. Upaya untuk mewujudkan kesejahteraan umum (bonum commune) adalah usaha yang baik dan luhur. Hanya ketika cita-cita dasar itu dikhianati, maka muncul berbagai kecurangan dan manipulasi nilai yang pada gilirannya menjadikan wajah praktek politik yang ada menjadi kusam.
SERUAN BERSAMA PGI dan KWI Dalam Rangka Pelaksanaan Pemilihan Umum 2009
Bisa dibaca sendiri teksnya, namun di sana ada 3 hal penting yang perlu diperhatikan dengan saksama sbb.
1. Melalui peristiwa PEMILU hak-hak asasi setiap warga negara di bidang politik diwujudkan.
2. Masyarakat perlu didorong untuk terus-menerus mengontrol mekanisme demokrasi supaya aspirasi rakyat benar-benar mendapat tempat.
3. Hasil-hasil PEMILU harus benar-benar menjamin bahwa Pancasila dan UUD1945 tetap dipertahankan sebagai dasar negara dan acuan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Dari Sidang KWI 03-13 November 2008 : Mengapa Pemilu 2009 Penting dan Gereja Mengajak Umat Terlibat?
1. Pemilu 2009 adalah pemilu antara menuju ke pertarungan politik yang sesungguhnya atau riil, yaitu 2014; sebab pada pemilu 2014 ini eksponen yang akan memimpin bangsa Indonesia adalah generasi baru (generasi yang tidak berhubungan dengan Orla dan Orba). Ini bisa berimplikasi ganda: di satu pihak, RAHMAT/BERKAT karena hadirnya orang-orang baru yang tidak terkontaminasi kedua Orde itu diharapkan betul-betul menjadikan Indonesia ini lebih baik; di lain pihak, menjadi PETAKA kalau tidak tersiapkan dengan baik sebab kemudian akan ada keterputusan generasi (generation gap) yang bisa berakibat Indonesia ini menjadi lain sama sekali.
2. Umat Katolik adalah garam dan terang dunia. Prinsip ini bisa diartikan harus menyebar dimana-mana tapi tidak kemana-mana. Garam itu cukup sedikit sudah mengenakkan masakan dan terang itu tidak perlu besar tapi sudah bisa membuat kegelapan terusir. Namun dalam realitasnya cukup banyak orang Katolik tidak hadir sbg yang menggarami dan menerangi. Banyak yang tetap dikooptasi oleh hegemoni dan oligarki partai politik dan juga kekuatan fraksi (kalau itu di DPR). Apakah orang Katolik akan tetap membiarkan dirinya seperti itu sehingga tidak memiliki arti yang signifikan dalam kehadirannya di masyarakat?[3]


”Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” Yeremia 29:7
------------------------------
Catatan kaki:
[1] Konsili Vatikan II menegaskan hal ini “Hendaknya para warganegara dengan kebesaran jiwa dan kesetiaan memupuk cinta tanah air, tetapi tanpa berpandangan picik, sehingga serentak tetap memperhatikan kesejahteraan segenap keluarga manusia, yang terhimpun melalui pelbagai ikatan antarsuku, antarbangsa dan antarnegara” (Gaudium et Spes artikel 75).
[2] Sri Paus di Vatikan, melalui Kongregasi untuk Ajaran Iman, di Roma, 24 November 2002 mengeluarkan catatan tentang “Peranserta Umat Katolik di Dalam Kehidupan Politik”. Di sana terungkap bahwa Gereja Katolik secara resmi memberikan dorongan kepada Umat Berimannya untuk melibatkan diri dalam politik yang oleh banyak orang dianggap kotor dan jorok itu. Para Politisi Katolik dan semua Umat Beriman Katolik disadarkan bahwa dirinya terpanggil untuk berperanserta di dalam kehidupan politik dalam masyarakat yang mencita-citakan terwujudnya masyarakat yang demokratis, sejahtera dan berkeadilan.
[3] Dalam Sidang KWI 2008 kemarin ada Hari Studi Politik dihadirkan dua narasumber sbb.

PRAISE & WORSHIP

Kegiatan Praise dan Worship Komunitas Tritunggal Mahakudus dilaksanakan di aula paroki pada hari Selasa, 25 November. Kegiatan ini menjadi kegiatan rutin. Hadir dalam perayaan ini kelompok pujian dari Semarang sementara yang membawakan firman adalah Rm Paulus Bambang Widiatmoko Pr. Sabda "Akulah pokok anggur dan kamu ranting-rantingnya" (Yoh 15:1-10) menjadi tema permenungan.
Anggota komunitas dan para sahabat komunitas yang hadir sekitar 100 orang menyemarakkan kegiatan tersebut. Sementara itu pula di aula paroki ada kegiatan pertemuan ketua kring. Mereka membahas kegiatan natal, kalender paroki dan arisan paroki.

infinemomnia/berkahDalem/toro

Selasa, 25 November 2008

Ucapan Terima Kasih



Indah Rencana Tuhan dalam Hidupku


Ucapan Terima Kasih

Empat puluh hari sudah dalam rangkaian doa-doa kami mengantar suami dan ayah kami tercinta


"Stefanus Agus Wahyudi"
(23 Oktober 1969 - 8 Oktober 2008)


Dalam rentang waktu itu, dalam diri kami datang berbagai
hal silih berganti. Kenangan akan kasih sayang, cita-cita,
keyakinan dan iman, prinsip hidup dan perjuangan yang pernah
almarhum kenalkan dan tunjukkan. Juga pergumulan kecemasan,
ketakutan, kebimbangan yang tumbuh dalam diri kami secara
manusiawi.

Serta kerelaan, kepasrahan, kebanggaan yang coba
kami tumbuhkan.

Semua kami coba letakkan dalam iman, pengharapan dan kasih dari ajaran iman kami.


Kami juga merasakan kehadiran dan sapaan saudara-saudari yang langsung bertemu muka, atau yang dari jauh melalui berbagai media. Baik pada saat sakit dan dirawat di rumah sakit Salatiga, di RS Elisabeth Semarang, saat meninggal, perawatan jenasah, misa reqiuem sampai pengantaran ke makam, juga saat bersama-sama berdoa sampai tiga, tujuh dan empat puluh hari.

Kami merasakan dukungan doa-doa yang menguatkan kami, terutama mendukung ketentraman jiwa almarhum.

Empat puluh hari sudah kami mengantar suami dan ayah kami tercinta dalam pergumulan batin dan doa-doa yang menyatu dengan dukungan serta doa-doa semua pihak. Oleh karena itu kami mengucapkan terima kasih tiada tara, atas dukungan dan bantuannya, kepada

Bapak Uskup Purwokerto Mgr Julianus Sunarka SJ
Walikota Pekalongan dr HM Basyir Ahmad beserta jajarannya
Pastor Kepala Paroki Pekalongan Rm Ag Dwiantoro Pr
Romo Paulus Bambang W, Pr
Romo Bonivasius Abas MSC
Romo Mardiusmanto Pr
Bruder Matias
Para Romo, Suster Keuskupan Purwokerto
ISKA Basis Pekalongan
Rekan-rekan KKMK Purwokerto
Rekan-rekan Bhumiksara
APTISI (Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia) Jawa Tengah
BPPT dan Kementrian Riset dan Teknologi Jakarta
St. Peter Choir Pekalongan
Yayasan Widya Pratama Pekalongan dan STMIK Widya Pratama Pekalongan
Yayasan dan SD Pius-SMP Pius Pekalongan
Yayasan dan SMA Bernardus Pekalongan
Kring St. Martha Pekalongan
dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu


Semua dukungan, doa, kasih, sapaan, penguatan yang diberikan, adalah mata air yang amat berharga bagi kami.
Biar semua itu kami simpan dan kami pelihara
serta kami terus syukuri dalam doa.



Keluarga St Agus Wahyudi
Victoria Retnowati (istri)
Putra-putri:
ME Cahyaningrum Wahyudi
L Laksita Nadiantika Wahyudi
Gabriel Aryo Narendra Wahyudi