Tampilkan postingan dengan label SMA Bernardus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SMA Bernardus. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Juli 2014

SMA Bernadus Juara I Lomba Vocal Groups



Ketekunan kami untuk berlatih tanpa henti adalah sebuah usaha yang menyiratkan pengharapan di dalam hati. Sejak kami diikutsertakan dalam perlombaan Vocal Group tingkat Kota Pekalongan, kami memantapkan diri untuk berjerih lelah mempersiapkan perlombaan itu. Kami mengawali latihan dengan tidak mudah. Kerap kami mengalami kesulitan, entah terkait cara kami bernyanyi maupun dalam kami menghayati isi lagu. Untunglah, kami memiliki Ibu There yang tekun mendampingi selama latihan. Profesionalitas dan totalitasnya membuat kami semangat dalam berlatih. Kendati kami mengalami kesulitan, kami tidak menjadi patah arang sebab keterlibatan Ibu There memberikan semangat bagi kami.
SMA Bernardus juara I lomba Vocal Groups Tingkat SMA

Pada hari Sabtu, 31 Mei 2014 bertempat di SMP N 7 Pekalongan, kami beradu kemampuan dengan para wakil sekolah se-kota Pekalongan. Kami, Fransiska Intan, Laurensia Vanesalli, Ivani Valentina, Veren Christianti berusaha tenang dan percaya diri agar kami bisa menampilkan suara secara berkualitas, sementara Yakub Setiawan fokus ada gitar akustiknya untuk mengiringi penampilan kami.

Dalam perlombaan itu, kami menampilkan dua lagu, yaitu “Aku Bisa dan Gethuk”. Awalnya kami merasa deg-degan tetapi saat kami berada di depan juri dan penonton, kami berpikir bahwa kami pasti bisa. Syair lagu yang kami nyanyikan menjadi inspirasi yang mengobarkan semangat kami dalam perlombaan ini. “Kami berusaha tampil dengan maksimal selebihnya kami serahkan kepada Allah. Biarlah Allah yang menyempurnakan kekurangan-kekurangan kami.” Ungkap Intan dengan penuh keyakinan.

Setelah semua peserta lomba menampilkan kebolehannya, ada rentang waktu bagi kami untuk menunggu hasil dari para juri. Kami menanti dengan hati berdebar dan penuh harap. Semoga Allah memberikan yang terbaik bagi kami. Tidak lama berselang, perwakilan dewan juri membacakan hasil penilaiannya, “Juara Pertama diraih oleh vocal group siswa/i SMA Bernardus.” Sontak kami meluapkan kegembiraan kami setelah mendengar keputusan dewan juri. Kami sangat bahagia sebab kami telah mempersiapkannya jauh-jauh hari dengan latihan keras dan doa, akhirnya berbuah keberhasilan. Kami sungguh bersyukur kepada Allah atas berkat yang kami terima. Semoga pengalaman keberhasilan ini memacu kami untuk terus mengembangkan bakat dan kemampuan kami sebagaimana telah Allah percayakan kepada kami.

“Biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.” (Yak 1:4) – Fransiska Intan/ SMA Bernardus -

 

Minggu, 06 Juli 2014

MEMAKNAI BELADA KISAH SENGSARA: YESUS MENCINTAIKU

dok. R. Edy
Tahun ini SMA Bernardus melibatkan diri dalam kegiatan pekan suci di Gereja Santo Petrus Pekalongan dengan mendramakan kisah Sengsara Yesus. Kisah sengsara dipentaskan pada Jumat, 18 April 2014 pukul 07.00 WIB menggantikan jalan salib. Salah satu siswa yang terlibat dalam drama itu adalah Tri Sulistyo Nugroho. Dia berperan sebagai Yesus. Bagi dia dan pemain lainnya, permenungan kisah sengsara Yesus dengan tablo adalah kali yang pertama. Tidak heran mereka mengalami ketakutan, keragu-raguan dan kecemasan. “M. Maryoto, pr sebagai pamong di SMA Bernadus tidak henti-hentinya memotivasi kami agar semakin percaya diri,” ungkap Tri Sulistyo alias Halus.  

Para siswa menyiapkan drama kisah sengsara sejak bulan Februari yang diawali dengan menonton video Kisah Sengsara Yesus. Melalui video itu mereka dibantu untuk menemukan karakter setiap peran di dalam kisah itu. “Aku sangat sedih saat melihat Yesus disiksa, dicambuk oleh para prajurit. Aku seolah merasakan apa yang dirasakan Yesus pada saat itu,” ungkap Halus. 

Dalam setiap latihan mereka didampingi oleh Bang Billy. Dia adalah guru seni (teater) yang terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler seni di SMA Bernardus. Di tengah persiapan mereka terkadang merasa getir dan takut seandainya tidak bisa mengingat naskah dengan baik. Akan tetapi melalui dukungan dan perhatian para romo, guru dan keluarga mereka mencoba menepis ketakutan dan kegetirannya dengan mempersembahkan yang terbaik.
dok. R. Edy

Sejak pukul 05.00, para pemain bersiap di ruang make-up untuk didandani. Jelang pukul 07.00, umat mulai berdatangan memenuhi seluruh gereja. Dekorasi sederhana mengubah altar menjadi panggung sengsara.

Kisah Sengsara Yesus berlangsung khusyuk. Umat menyaksikan adegan demi adegan dengan penuh perhatian bahkan tidak sedikit dari mereka terhanyut dalam kesedihan rohani sampai meneteskan air mata kasih yang mendalam. “Aku sangat bersyukur telah berperan sebagai Yesus. Rasa sakit dan memar yang kurasakan rasanya belum seberapa berat dengan apa yang dialami Yesus. Aku terharu betapa dalam pengorbanan Yesus bagiku. Yesus sangat mencintaiku. Dia mencintai dengan darah dan kematian demi kebahagiaan kekal.” Ungkap Halus mengakhiri sharingnya. (Tri Sulistyo Nugroho/SMA Bernardus)