Sabtu, 11 Oktober 2008

Agenda Kegiatan Paroki St Petrus



PERAYAAN EKARISTI:

Misa Mingguan : Sabtu : pk 17.00 & Minggu : pk 07.00 dan 17.00; Stasi Wiradesa : Sabtu, 11/10 pk 18.00, Karanganyar Minggu 12/10 pk 08.00.

Misa Harian : tiap hari pk 05.30, kecuali hari Jumat dan sabtu pagi.

PENUTUPAN LINGTU (lingkaran tujuh) Gua Maria Kaliloji

Jumat, 17 Oktober pk 18.00 dipimpin oleh Rm Hartono Budi SJ. Rm Hartono Budi SJ adalah seorang imam yang berasal dari Pekalongan. Sekarang menjadi staff SEminari Tinggi dan dosen Fakultas Teologi Wedhabakti Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

SARASEHAN UMAT tentang Rome Sweet Home dipimpin oleh Rm Hartono Budi SJ, SAbtu 18 Oktober pk 18.30. Acara dirangkai dalam games, doorprice dan musik akustic.

------------------------- berkah Dalem ---------------------------------------

Kamis, 09 Oktober 2008

Perginya Aktivis Pendidikan

Kehilangan. Itulah ungkapan yang paling pas untuk kepergian Bp St Agus Wahyudi menuju Bapa di Surga. Betapa tidak disaat sedang aktif menajak karier hidup, relasi dan studi, Bp Agus W dipanggil Tuhan. Bp Agus wahyudi adalah direktur STIMIK Pekalongan, yang sedang menempuh pendidikan S3 bidang KomputerBeliau meninggalkan seorang istri dan 3 putra. Yang paling besar klas 5 SD sedang terakhir baru 1 th.
Rasa kehilangan itu bukan hanya civitas akademica STIMIK Widyapratama Pekalongan tetapi masyarakat kota Pekalongan. Masyarakat kota Pekalongan kehilangan seorang yang konsern pada pendidikan. Bp Walikota dalam pertemuan bersama dengan jajaran pemerintahan, mengungkapkan rasa kehilangan seorang yang amat peduli dengan dunia pendidikan. Atas berbagai prakarsanya dan pendekatan STIMIK Widyapratama dapat bekerja sama dengan pemerintah dan mampu menyedot ratusan mahasiswa.
Selain masyarakat kota Pekalongan, rasa kehilangan itu juga dirasakan segenap insan dan lembaga pendidikan katolik baik itu SD Pius (bp Agus Selaku ketua komite) dan SMA Bernardus (juga komite). Pengabdian dan waktu yang dicurahkan untuk pendidikan dan kemajuan Gereja amat terasa. Waktu mempersiapkan kegiatan-kegiatan paroki seperti MUSPAS, pemilihan anggota Dewan dan agenda kegiatan paroki, bp Agus senantiasa memberikan waktunya. Juga ISKA ranting Pekalongan merasa amat kehilangan oleh karena gerakan dan semangat untuk menggalang kerja sama diantara para anggotanya.
SEmua kenangan yang indah kini telah tersimpan dalam kitab kehidupan. Pk 11.45 perayaan ekaristi requiem dimulai di rumah duka perum pesona indah Pekalongan. Lagu Bapa Kami Andre Manika mengiringi doa-doa yang dipanjatkan selama ekaristi. Tepat pukul 13.30 jenasah diberangkatkan dan dimakamkan di makam kerkop.
Selamat Jalan Bp St Agus Wahyudi SCom.MCom. Meskipun ilmu S3 belum berakhir Bp Agus telah mengajari kami ilmu kehidupan.

in finem omnia
toro

Selasa, 07 Oktober 2008

Gereja Menjalin Kebersamaan

Berkah Dalem,
Hari Minggu lalu saya diundang seorang kyai Musthofa Bakri, kyai sepuh di wilayah Pekalongan Selatan, tepatnya kelurahan Jenggot. Bersama dengan teman-teman umat yang sudah biasa berkumpul dalam keanekaragama dan dialog antar umat beragama, saya hadir di rumah kediaman bp Kyai. Meski semula kegiatan yang diberi judul halalbihal ini direncanakan sejak pukul 09.00 namun baru dimulai pk 11.00. Karena memang kegiatan ini bukan kegiatan keagamaan tertentu yang mengundang kehadiran kelompok agama lain melainkan kegiatan temu bersama tokoh agama, keyakinan, tokoh masyarakat dan partai politik maka kegiatan kekeluargaan ini bisa dimengerti.
Bermula dari perkenalan para hadirin yang duduk lesehan dan memperkenalkan perkawilan dri mana serta umumnya pada menyebut mengucapkan selamat hari lebaran dan mohon doa restu untuk maju menjadi caleg kota Pekalongan, gelaran acara tersebut dilanjutkan dengan wejangan atau sambutan dari kyai sepuh dan bp kapolwil Pekalongan.
Dalam wejangannya Kyai sepuh ini mengungkapkan bahwa usianya sudah senja (79th) dan berharap bahwa situasi Pekalongan berlangsung damai terutama nanti dengan pekalsanaan pemilu. Kedamaian itu perlu diciptakan bersama. Kyai sepuh memang bermaksud menggelar acara sederhana ini agar para peserta pemilu dan tokoh agama ikut mendukung dalam doa dan himbauan kepada umatnya agar kebersamaan secara damai dapat dijadikan contoh bagi masyarakat lain. Hal ini ditegaskan lebih lanjut bp Kapolwil dengan mengatakan menjadikan pemilu ini secara elegan. Yang menang menerima dengan baik yang kalah juga menerima dengan baik.
Di akhir silahturahmi bersama ini ada doa bersama mohon kedamaian dan menikmati hidangan sega megono makanan khas pekalongan.
Acaranya tidak serta merta berlangsung lancar karena acara pokok adalah sambutan dari bp kapolwil sementara waktu itu yang ditunggu masih dalam perjalanan karena masih mendampingi bp kapolda yang meninjau arus mudik pantura. Maka ada jeda waktu dan sambil menunggu waktu inti tersebut, saya ketimban sampur untuk menyampaikan "pesan" keanekaragaman/ pluriformitas. Meskipun amat dadakan saya mencoba untuk menyampaikan di hadapan para kyai dan tokoh parpol serta tokoh masyarakat. Tidak lain dan tidak bukan bahwa kebersamaan itu dibangun berkat kesediaan untuk menerima perbedaan sebagai keindahan. Keindahan kebersamaan tidak dapat dipungkiri dibentuk oleh pengalaman hidup homogenitas tetapi tidak menutup kemungkinan untuk terbuka pada keanekaragaman. Ibaratnya "Pelangi-pelangi ciptaan Tuhan" kebersamaan itu menjadi indah karena masing-masing mengakui bahwa berbeda.
Pengalaman dan pesan singkat saya sampaikan dengan permohonan maaf karena memang lebih banyak yang sepuh dan berpengalaman dalam menghayati keanekaragaman.
Acara ini sebenarnya lebih banyak digagas oleh putra dari bp Kyai yaitu mas Subhan yang juga aktif menggerakkan forum kerukunan masyarakat pekalongan. Acara sederhana dan kekeluargaan ini mencerahkan lebih-lebih dalam suasana idulfitri.

In finem omnia

Rabu, 23 April 2008

MENCIPTAKAN PELANGI

Berkah DAlem
Gelaran karpet yang semula disiapkan untuk menampung 30 orang tidak lagi mencukupi. Tikar tambahan digelar dan snak dibagikan tidak mampu mencukupi jumlah yang datang dalam temon gelaran forum kerukunan Masyarakat Pekalongan. Pertemuan yang keempat kalinya ini digelar di aula paroki St Petrus Pekalongan. Hadir 88 orang berdasarkan snak yang dibagikan. Namun masih ada dyang datang tetapi tidak kebagian snak. Acara bersma ini dihadiri sejumlah tokoh agama, ulama, dandim, wakapolwil pekalongan, lsm, masyarakat umum. Subhan sebagai koordinator Forum Kerukunan mengungkapkan kembali kronologi munculnya paguyuban ini. Meski demikian dirindukan bahwa ternyata setiap kali pertemuan selalu mengulang penjelasan dari waktu ke waktu. Berbagai permasalahan diungkapkan dengan hati lega seperti kasus perngrusakan patung dewi yang dipajang di halaman depan realestate pakalongan, ancaman di daerah panjang dan juga yang dialami gereja katolik di wilayah slamaran. meski tidak menjawab semua masalah tetapi duduk bersama dan ngobrol bersama menjadi ungkapan menciptakan pelangi sebagaiman diajak oleh tuan rumah (paroki).